Saat
aku menulis ini, aku menggenggam hatiku dengan erat
Aku takut
hatiku usang berdebu, karena terlalu lama menunggu
Menunggu
dan menanti dalam diam
Diam ku
emas karena aku berusaha memendam kalimat yang jauh-jauh hari telah ku susun
rapi
Tapi
terlalu lama berdiam emas akan berkarat bukan?
Mana kala
hati mulai terpikat
Kemudian
membumbu indah dalam susunan kalimat
Aku tak
bisa berdusta kala pertemuan kita telah mendatangkan rasa
Aku
takut menatap mata mu jauh lebih dalam
Aku
takut mendapatkan cinta yang jauh bersembunyi di dalam sana
Aku
jatuh cinta pada orang yang dalam rona mata nya tak ku temukan bayangan ku
Aku
hanya wanita biasa, manusiawi jika aku mengharapkan cinta
Bertumbuh
karena cinta, kemudian menjadi besar pun karena cinta
Cinta..
Yang
takkan habis di ungkap dalam hamparan kata
Takkan
cukup ditulis dengan lautan tinta
Aku
hanya pecandu senyum tawamu tanpa kamu sadari
Jadi
biarkan seperti ini, terus mengagumi dalam diam
Tak
taukah kamu bila sedihmu adalah sedihku
Kebahagiaanmu
kebahagiaanku juga
Tapi
cintamu mungkin bukan cintaku
Aku kemudian
bercakap dalam bisu
Aku tak
tahu, inikah sesungguhnya rindu?
Saat
degup hati mulai menderu haru
Mungkin
saat ini aku hanya merindukan, bukan saling merindukan.
Aku
hanya berdoa sendirian dan bukan saling mendoakan.
Mungkin
aku hanya berharap terlalu cepat
Aku
bermimpi terlalu banyak
Aku tak
pernah berpikir bahwa rasa nyaman ini akan berganti dengan rasa takut
kehilangan.
Aku tak
tahu apakah kenyamanan ini tumbuh karena kamu adalah teman bertukar pikiran
yang tepat atau kamu memang sosok spesial yang sengaja dikirimkan Tuhan
untukku?
Sekarang
aku sedang ketakutan.
Takut
kamu berubah ketika aku sedang sangat merasa nyaman padamu.
Aku
takut kamu pergi ketika aku mulai meletakkanmu di sudut hatiku yang paling
dalam.
Ketakutan
terbesarku adalah selama ini kamu hanya menganggapku sebagai teman dan kamu akan
pergi tanpa perasaan; seakan tak meninggalkan seseorang yang telah lama
memperjuangkanmu.
Jakarta,
12 Oktober 2014, 21:30 pm