Minggu, 12 Oktober 2014

Aku dan Ketakutanku



Saat aku menulis ini, aku menggenggam hatiku dengan erat
Aku takut hatiku usang berdebu, karena terlalu lama menunggu
Menunggu dan menanti dalam diam
Diam ku emas karena aku berusaha memendam kalimat yang jauh-jauh hari telah ku susun rapi
Tapi terlalu lama berdiam emas akan berkarat bukan?

Mana kala hati mulai terpikat
Kemudian membumbu indah dalam susunan kalimat
Aku tak bisa berdusta kala pertemuan kita telah mendatangkan rasa
Aku takut menatap mata mu jauh lebih dalam
Aku takut mendapatkan cinta yang jauh bersembunyi di dalam sana
Aku jatuh cinta pada orang yang dalam rona mata nya tak ku temukan bayangan ku
Aku hanya wanita biasa, manusiawi jika aku mengharapkan cinta
Bertumbuh karena cinta, kemudian menjadi besar pun karena cinta

Cinta..
Yang takkan habis di ungkap dalam hamparan kata
Takkan cukup ditulis dengan lautan tinta
Aku hanya pecandu senyum tawamu tanpa kamu sadari
Jadi biarkan seperti ini, terus mengagumi dalam diam
Tak taukah kamu bila sedihmu adalah sedihku
Kebahagiaanmu kebahagiaanku juga
Tapi cintamu mungkin bukan cintaku

Aku kemudian bercakap dalam bisu
Aku tak tahu, inikah sesungguhnya rindu?
Saat degup hati mulai menderu haru
Mungkin saat ini aku hanya merindukan, bukan saling merindukan.
Aku hanya berdoa sendirian dan bukan saling mendoakan.

Mungkin aku hanya berharap terlalu cepat
Aku bermimpi terlalu banyak
Aku tak pernah berpikir bahwa rasa nyaman ini akan berganti dengan rasa takut kehilangan.
Aku tak tahu apakah kenyamanan ini tumbuh karena kamu adalah teman bertukar pikiran yang tepat atau kamu memang sosok spesial yang sengaja dikirimkan Tuhan untukku?

Sekarang aku sedang ketakutan.
Takut kamu berubah ketika aku sedang sangat merasa nyaman padamu.
Aku takut kamu pergi ketika aku mulai meletakkanmu di sudut hatiku yang paling dalam.
Ketakutan terbesarku adalah selama ini kamu hanya menganggapku sebagai teman dan kamu akan pergi tanpa perasaan; seakan tak meninggalkan seseorang yang telah lama memperjuangkanmu.

Jakarta, 12 Oktober 2014, 21:30 pm

Jumat, 10 Oktober 2014

Keluarga adalah Segalanya



Seperti candu, rindu itu seakan mengganggu
Mengusik hari di kala sepi
Membangun perih yang tak bertepi
Walau terpisah oleh bentangan jarak
Yang memabukkan bagai arak

Sudah lama kami tak bersama
Berbagi tawa serta canda
Atau sekedar menikmati teh bersama
Kemudian larut dalam rangkaian cerita

Kami sekeluarga ada di kotanya masing-masing
Terpisah demi meraih cita dan asa
Demi membahagiakan keluarga
Dan membuat bangga orang tua

Deretan pulau memisahkan kami
Bentangan waktu pun ikut berdiri
Keluarga adalah segalanya
Ia ibarat sorga
Yang penuh keindahan
Dan berlimpah kenyamanan
Keluarga ibarat obat penyembuh duka
Laksana penawar luka di jiwa

Ah... Mungkin aku hanya sedang rindu
Saat berkumpul bersama di meja makan
Atau menghabiskan akhir pekan untuk jalan-jalan

Walau berjauhan satu sama lain
Namun tidak memudarkan kasih sayang
Atau menghilangkan perhatian
Kami tetap mencintai sembari mendoakan
Semoga Dia yang empunya kehidupan selalu menganugerahkan kebahagiaan.

Jakarta, 10 Oktober 2014, 18:30 pm