Senin, 14 Juli 2014

“Bantaran Sungai dan Ceritanya”


Pengalaman kemarin mengajarkan saya banyak hal tentang apa arti bersyukur. Semua bermula saat saya bersama 3 rekan sekantor mengadakan survey untuk Pengelolaan Sumber Daya Air Ciliwung Cisadane Tahap II. Kami mengawali perjalanan dengan menyusuri jalanan Ibu Kota dan berhenti di salah satu muara sungai di daerah Tangerang. Muara Sungai Cirarab, menyambut kedatangan kami dengan bau limbah yang sangat menyengat. Langkah kami bergerak cepat, seperti berlomba dengan tetes hujan yang mulai jatuh perlahan. Semakin jauh menyusuri perkampungan nelayan akhirnya kami sampai di muara Sungai Cirarab. Sepanjang mata memandang terlihat jejeran rumah-rumah kecil, reot dan tidak layak huni di sepanjang bantaran sungai.  Kami tercengang sekaligus prihatin saat menyaksikan langsung kualitas air sungai yang ada di sana. Air Sungai Cirarab berwarna hitam pekat, berbau, dan dipenuhi sampah. Banyak kapal-kapal nelayan yang berlalu lalang. Aktifitas nelayan yang mencari ikan tampak begitu menarik. Mereka tidak mempedulikan tetes hujan yang membasahi tubuh mereka. Mereka rela membanting tulang dan memeras keringat demi sepiring nasi bagi keluarga mereka di rumah.

Kami pun melanjutkan perjalanan ke lokasi sungai yang ke dua yaitu Sungai Dadap. Lokasinya masih di daerah Tangerang, tidak jauh dari Bandara Internasional Soekarno Hatta. Kondisi lingkungan di bantaran Sungai Dadap tidak jauh berbeda dengan kondisi lingkungan di bantaran Sungai Cirarab. Namun ada yang menarik, di sepanjang bantaran Sungai Dadap tampak jejeran lokalisasi yang bercampur menjadi satu dengan rumah penduduk. Puluhan cafe-cafe kecil berjejer rapi di sepanjang jalan menuju muara. Kualitas air di Sungai Dadap tidak sekeruh sungai Cirarab namun banyaknya sampah yang tertimbun di kedua sungai tersebut hampir sama. Tidak banyak aktifitas nelayan yang terlihat di Sungai Dadap hanya nampak beberapa kapal nelayan yang sedang berlabuh di sepanjang sungai. Ada beberapa pertanyaan klise yang terlintas dalam angan saya satelah melakukan kunjungan ke beberapa lokasi sungai hari ini yaitu “Bagaimana dengan kesehatan penduduk di bantaran Sungai Cirarab dan bantaran Sungai Dadap? Bagaimana mungkin mereka dapat berakatifitas, makan dan minum dengan bau sampah yang menyengat? Bahkan kualitas udara yang mereka hirup setiap hari pun sangat jauh dari kata sehat!” Mereka tidak seharusnya menjalani keseharian mereka di tengah keadaan lingkungan yang seperti itu. Himpitan hidup yang semakin berat, harga kebutuhan pokok yang melonjak seakan memaksa mereka untuk hidup dengan keadaan yang serba memprihatinkan. Mereka bahkan tidak mempunyai pilihan, mereka berada di tempat itu karena tuntutan keadaan. Kesadaran masyarakat untuk membuang sampah pada tempatnya pun masih minim. Tak hanya sungai-sungai yang ada di Ibu Kota, bahkan kesadaran masyarakat di pinggiran kota seperti di bantaran Sungai Cirarab dan Sungai Dadap pun masih minim. Selain itu limbah-limbah industri yang di buang dengan sembarangan juga turut ambil andil dalam pencemaran kualitas air. Bahkan ada beberapa masyarakat di bantaran sungai yang menggunakan air sungai sebagai sarana untuk mandi dan mencuci.

Ada pemandangan yang menarik di bantaran Sungai Cirarab, saat anak-anak nelayan bermain dengan penuh keceriaan. Mereka tertawa lepas, berbagi canda dengan teman-teman sesama anak nelayan tanpa merasa risih atau jijik dengan keadaan lingkungan sekitar mereka. Ya.. anak-anak itu, mereka adalah aset bangsa, generasi penerus bangsa, kejaayaan Indonesia ada di tangan mereka. Semoga kelak mereka dapat merubah perkampungan tempat tinggal mereka menjadi perkampungan yang lebih sehat, perkampungan Sungai Cirarab dan Sungai Dadap yang semoga lebih layak huni. Banyak hikmah dan pelajaran yang bisa saya ambil dari perjalanan survei kemarin bahwa sudah selayaknya kita dengan tingkat ekonomi yang jauh lebih baik di bandingkan mereka agar lebih mensyukuri lagi nikmat yang kita miliki saat ini tanpa sikap mengeluh atau menyalahkan keadaan.


Jakarta, 14 Juli 2014, 11.21 am