Pengalaman kemarin mengajarkan saya banyak hal tentang apa
arti bersyukur. Semua bermula saat saya bersama 3 rekan sekantor mengadakan
survey untuk Pengelolaan Sumber Daya Air Ciliwung Cisadane Tahap II. Kami
mengawali perjalanan dengan menyusuri jalanan Ibu Kota dan berhenti di salah
satu muara sungai di daerah Tangerang. Muara Sungai Cirarab, menyambut
kedatangan kami dengan bau limbah yang sangat menyengat. Langkah kami bergerak cepat,
seperti berlomba dengan tetes hujan yang mulai jatuh perlahan. Semakin jauh
menyusuri perkampungan nelayan akhirnya kami sampai di muara Sungai Cirarab. Sepanjang
mata memandang terlihat jejeran rumah-rumah kecil, reot dan tidak layak huni di
sepanjang bantaran sungai. Kami tercengang
sekaligus prihatin saat menyaksikan langsung kualitas air sungai yang ada di
sana. Air Sungai Cirarab berwarna hitam pekat, berbau, dan dipenuhi sampah. Banyak
kapal-kapal nelayan yang berlalu lalang. Aktifitas nelayan yang mencari ikan
tampak begitu menarik. Mereka tidak mempedulikan tetes hujan yang membasahi tubuh
mereka. Mereka rela membanting tulang dan memeras keringat demi sepiring nasi
bagi keluarga mereka di rumah.
Kami pun melanjutkan perjalanan ke lokasi sungai yang ke dua
yaitu Sungai Dadap. Lokasinya masih di daerah Tangerang, tidak jauh dari
Bandara Internasional Soekarno Hatta. Kondisi lingkungan di bantaran Sungai
Dadap tidak jauh berbeda dengan kondisi lingkungan di bantaran Sungai Cirarab. Namun
ada yang menarik, di sepanjang bantaran Sungai Dadap tampak jejeran lokalisasi
yang bercampur menjadi satu dengan rumah penduduk. Puluhan cafe-cafe kecil
berjejer rapi di sepanjang jalan menuju muara. Kualitas air di Sungai Dadap
tidak sekeruh sungai Cirarab namun banyaknya sampah yang tertimbun di kedua
sungai tersebut hampir sama. Tidak banyak aktifitas nelayan yang terlihat di Sungai
Dadap hanya nampak beberapa kapal nelayan yang sedang berlabuh di sepanjang
sungai. Ada beberapa pertanyaan klise yang terlintas dalam angan saya satelah melakukan
kunjungan ke beberapa lokasi sungai hari ini yaitu “Bagaimana dengan kesehatan
penduduk di bantaran Sungai Cirarab dan bantaran Sungai Dadap? Bagaimana
mungkin mereka dapat berakatifitas, makan dan minum dengan bau sampah yang
menyengat? Bahkan kualitas udara yang mereka hirup setiap hari pun sangat jauh
dari kata sehat!” Mereka tidak seharusnya menjalani keseharian mereka di tengah
keadaan lingkungan yang seperti itu. Himpitan hidup yang semakin berat, harga kebutuhan
pokok yang melonjak seakan memaksa mereka untuk hidup dengan keadaan yang serba
memprihatinkan. Mereka bahkan tidak mempunyai pilihan, mereka berada di tempat
itu karena tuntutan keadaan. Kesadaran masyarakat untuk membuang sampah pada
tempatnya pun masih minim. Tak hanya sungai-sungai yang ada di Ibu Kota, bahkan
kesadaran masyarakat di pinggiran kota seperti di bantaran Sungai Cirarab dan Sungai
Dadap pun masih minim. Selain itu limbah-limbah industri yang di buang dengan
sembarangan juga turut ambil andil dalam pencemaran kualitas air. Bahkan ada
beberapa masyarakat di bantaran sungai yang menggunakan air sungai sebagai
sarana untuk mandi dan mencuci.
Ada pemandangan yang menarik di bantaran Sungai Cirarab,
saat anak-anak nelayan bermain dengan penuh keceriaan. Mereka tertawa lepas,
berbagi canda dengan teman-teman sesama anak nelayan tanpa merasa risih atau
jijik dengan keadaan lingkungan sekitar mereka. Ya.. anak-anak itu, mereka
adalah aset bangsa, generasi penerus bangsa, kejaayaan Indonesia ada di tangan
mereka. Semoga kelak mereka dapat merubah perkampungan tempat tinggal mereka
menjadi perkampungan yang lebih sehat, perkampungan Sungai Cirarab dan Sungai Dadap
yang semoga lebih layak huni. Banyak hikmah dan pelajaran yang bisa saya ambil
dari perjalanan survei kemarin bahwa sudah selayaknya kita dengan tingkat
ekonomi yang jauh lebih baik di bandingkan mereka agar lebih mensyukuri lagi nikmat
yang kita miliki saat ini tanpa sikap mengeluh atau menyalahkan keadaan.