Di saat gundah melanda,
saat merasa segalanya terlalu berat
untuk di pikul seorang diri, aku bisa apa??
Kepada siapa aku harus berlari??
Kepada siapa aku harus berlari??
Untuk melabuhkan beban,
Untuk menyandarkan kepala walau hanya
sedetik ,
Untuk berbagi lara walau cuma semenit atau
bahkan hanya untuk mencicipi sedikit bahagia, di tengah lelahnya jiwa karena
rutinitas dunia.
Karena lelah yang hampir menyentuh titik jenuh dan diikuti seabrik rasa-rasa yang lain, yang terus menyerang tanpa henti, membius semangat, memudarkan tawa, menghapus sukacita.
Karena lelah yang hampir menyentuh titik jenuh dan diikuti seabrik rasa-rasa yang lain, yang terus menyerang tanpa henti, membius semangat, memudarkan tawa, menghapus sukacita.
Entahlah segalanya di renggut....
Namun, aku punya Tuhan..
Aku punya Tuhan yang tak pernah kulihat wajahNya,
Namun, aku punya Tuhan..
Aku punya Tuhan yang tak pernah kulihat wajahNya,
Tuhan yang tak pernah ku rasakan secara
langsung hangat genggaman tanganNya,
Tuhan yang tak pernah ku dengar bunyi
suara sepatuNya bila berjalan,
Tapi, aku bersyukur punya Dia..
Aku merasa beruntung bisa menikmati
kemurahan hatiNya.
Hanya Dia pendengar sejati.
Pendengar satu arah yang baik.
Pendengar yang selalu mendengar tanpa
berkomentar.
JawabanNya hanya bisa dirasakan dan
diyakini dalam iman.
Mungkin hanya karena kebaikanNya aku
masih bisa melukis senyum,
Masih mampu menatap indahnya dunia
walau dengan lengkungan senyum palsu.
Selengkung senyum yang bisa menyamarkan
kesedihan, menutup luka dan menyamarkan air mata.
Tapi...terima kasih Tuhan, terima kasih
penghibur sejati buat satu senyuman penuh arti.