Berbicara tentang ‘Dunia Konstruksi’ dan ‘Dunia
Proyek’ tentu tidak terlepas dari peran Teknik Sipil yang memiliki keterkaitan paling erat didalamnya. Definisi
Teknik Sipil sendiri adalah salah satu cabang dari ilmu teknik yang mempelajari tentang berbagai hal yang
berkaitan dengan konstruksi ( pembangunan, perancangan, pemeliharaan
infrastuktur bangunan/jalan/jembatan dan sebagainya ) serta termasuk penyehatan
lingkungan hidup dan lain – lain. Seseorang yang bergelut dalam bidang teknik
sipil tidak hanya dapat berkecimpung dalam dunia konstruksi saja namun
selebihnya ia dapat mempunyai kemampuan dasar dalam bidang komunikasi yaitu
dengan merumuskan masalah teknis dalam terminologi
legal, sosial, politis, lingkungan berkelanjutan, dan sistem daur hidup serta
pengertian dasar perdagangan seperti pemasaran, managemen keuangan dan etika
bisnis.
Selama ini para peserta didik yang berminat dibidang Teknik Sipil lebih
banyak didominasi oleh peserta didik putra daripada peserta didik putri. Rendahnya
representasi peserta didik putri dalam bidang teknik sipil saat ini menjadi
suatu indikasi adanya gejala segredasi gender dalam suatu bidang yang masih
dalam kekuasaan penuh dan belum ada tanda – tanda mereda, sehingga harus segera dicari solusinya. Berbagi alasan
yang melatar belakangi keputusan merekapun dilontarkan. Alasan – alasan mereka
itu antara lain adalah yang pertama karena sebagian besar peserta didik putri
merupakan peserta didik yang memiliki latar belakang pendidikan SLTA yang
berbeda dengan peserta didik putra yang kebanyakan menyelesaikan pendidikan
menengahnya diSMK. Seperti yang telah kita ketahui bahwa bidang Teknik Sipil sangat
berkaitan erat dengan proses pendesignan suatu infrastruktur dan dasar – dasar proses
pendesignan yang meliputi teknik menggambar ini biasanya telah diberikan pada
jenjang pendidikan SMK, lainnya halnya dengan SLTA yang lebih condong dalam
penyajian pelajaran – pelajaran umum saja. Alasan yang kedua adalah karena setelah
lulus menempuh proses perkuliahan di Teknik Sipil, dunia kerja ( pasar ) biasanya
lebih mempercayakan proyek – proyek mereka untuk dikerjakan oleh para sarjana
putra ketimbang para sarjana putri. Latar belakang alasan tersebut adalah
karena selama ini kinerja kaum putri dilapangan dianggap masih belum maksimal
oleh pasar apalagi bagi seorang pelaksana konstruksi ( karena fisik kaum putri
yang dianggap tidak sekuat fisik kaum putra dilapangan ). Alasan ketiga adalah
karena saat ini terdapat banyak insinyur Teknik Sipil yang menganggur karena
persaingan individu yang makin melesat namun tidak disertai dengan ketersediaan
lapangan pekerjaan yang memadai. Alasan terakhir adalah karena semakin
bertambahnya alternatif variasi pilihan bidang ilmu keteknikan yang lain yang prospek
kedepannya lebih menjanjikan bagi lulusan teknik kaum putri, seperti : Teknik
Informatika, Teknik Komputer dan Jaringan, Teknik Industri dan sebagainya.
Alasan
– alasan tersebutlah yang membuat minat peserta didik putri dalam bidang Teknik
Sipil menurun dan lebih memilih cabang keilmuan lain yang prospeknya kedepan
lebih baik dan menguntungkan. Kini menjadi tanggung jawab kita semua untuk
dapat mencari setitik lubang solusi dibalik semua permasalahan yang
mengkompleks itu. Beberapa solusi yang dapat ditempuh adalah yang pertama dengan
mengadakan riset atau penelitian yang lebih dalam tentang hal – hal yang mempengaruhi prestasi belajar atau minat
peserta didik putri, diantaranya mengenai faktor psikologis ( keinginan,
motivasi, cita dll ), faktor lingkungan, faktor fisik ( kesehatan, kekebalan
dll ), faktor pelengkap ( sarana dan prasarana ). Solusi yang kedua adalah dengan lebih gencar lagi mempromosikan ‘Dunia Teknik
Sipil’ kepada para remaja putri khususnya dan masyarakat luas pada umumnya untuk
merubah paradigma mereka agar mereka lebih tertarik untuk melanjutkan studinya
dibidang Teknik Sipil daripada dibidang yang lainnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar