Minggu, 20 Januari 2013

Minimnya Minat Peserta Didik Putri Dalam Bidang Teknik Sipil



            Berbicara tentang ‘Dunia Konstruksi’ dan ‘Dunia Proyek’ tentu tidak terlepas dari peran Teknik Sipil yang memiliki keterkaitan paling erat didalamnya. Definisi Teknik Sipil sendiri adalah salah satu cabang dari ilmu teknik  yang mempelajari tentang berbagai hal yang berkaitan dengan konstruksi ( pembangunan, perancangan, pemeliharaan infrastuktur bangunan/jalan/jembatan dan sebagainya ) serta termasuk penyehatan lingkungan hidup dan lain – lain. Seseorang yang bergelut dalam bidang teknik sipil tidak hanya dapat berkecimpung dalam dunia konstruksi saja namun selebihnya ia dapat mempunyai kemampuan dasar dalam bidang komunikasi yaitu dengan merumuskan masalah teknis dalam terminologi legal, sosial, politis, lingkungan berkelanjutan, dan sistem daur hidup serta pengertian dasar perdagangan seperti pemasaran, managemen keuangan dan etika bisnis.
                Selama ini para peserta didik yang berminat dibidang Teknik Sipil lebih banyak didominasi oleh peserta didik putra daripada peserta didik putri. Rendahnya representasi peserta didik putri dalam bidang teknik sipil saat ini menjadi suatu indikasi adanya gejala segredasi gender dalam suatu bidang yang masih dalam kekuasaan penuh dan belum ada tanda – tanda mereda, sehingga  harus segera dicari solusinya. Berbagi alasan yang melatar belakangi keputusan merekapun dilontarkan. Alasan – alasan mereka itu antara lain adalah yang pertama karena sebagian besar peserta didik putri merupakan peserta didik yang memiliki latar belakang pendidikan SLTA yang berbeda dengan peserta didik putra yang kebanyakan menyelesaikan pendidikan menengahnya diSMK. Seperti yang telah kita ketahui bahwa bidang Teknik Sipil sangat berkaitan erat dengan proses pendesignan suatu infrastruktur dan dasar – dasar proses pendesignan yang meliputi teknik menggambar ini biasanya telah diberikan pada jenjang pendidikan SMK, lainnya halnya dengan SLTA yang lebih condong dalam penyajian pelajaran – pelajaran umum saja. Alasan yang kedua adalah karena setelah lulus menempuh proses perkuliahan di Teknik Sipil, dunia kerja ( pasar ) biasanya lebih mempercayakan proyek – proyek mereka untuk dikerjakan oleh para sarjana putra ketimbang para sarjana putri. Latar belakang alasan tersebut adalah karena selama ini kinerja kaum putri dilapangan dianggap masih belum maksimal oleh pasar apalagi bagi seorang pelaksana konstruksi ( karena fisik kaum putri yang dianggap tidak sekuat fisik kaum putra dilapangan ). Alasan ketiga adalah karena saat ini terdapat banyak insinyur Teknik Sipil yang menganggur karena persaingan individu yang makin melesat namun tidak disertai dengan ketersediaan lapangan pekerjaan yang memadai. Alasan terakhir adalah karena semakin bertambahnya alternatif variasi pilihan bidang ilmu keteknikan yang lain yang prospek kedepannya lebih menjanjikan bagi lulusan teknik kaum putri, seperti : Teknik Informatika, Teknik Komputer dan Jaringan, Teknik Industri dan sebagainya.
            Alasan – alasan tersebutlah yang membuat minat peserta didik putri dalam bidang Teknik Sipil menurun dan lebih memilih cabang keilmuan lain yang prospeknya kedepan lebih baik dan menguntungkan. Kini menjadi tanggung jawab kita semua untuk dapat mencari setitik lubang solusi dibalik semua permasalahan yang mengkompleks itu. Beberapa solusi yang dapat ditempuh adalah yang pertama dengan mengadakan riset atau penelitian yang lebih dalam tentang hal – hal yang  mempengaruhi prestasi belajar atau minat peserta didik putri, diantaranya mengenai faktor psikologis ( keinginan, motivasi, cita dll ), faktor lingkungan, faktor fisik ( kesehatan, kekebalan dll ), faktor pelengkap ( sarana dan prasarana ). Solusi yang kedua adalah dengan  lebih gencar lagi mempromosikan ‘Dunia Teknik Sipil’ kepada para remaja putri khususnya dan masyarakat luas pada umumnya untuk merubah paradigma mereka agar mereka lebih tertarik untuk melanjutkan studinya dibidang Teknik Sipil daripada dibidang yang lainnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar