Minggu, 20 Januari 2013

The Power Of Love

           Mainset saya tentang cinta menjadi berubah tatkala dalam perjalanan kekampus tadi pagi (Senin, 10/10/2011) saya menemukan pemandangan yang benar-benar membuat saya tercengang kagum.

          Tepatnya tadi pagi saat dalam perjalanan kekampus seperti biasanya saya berangkat pagi jam 08.00 WIB yang kebetulan dengan menggunakan bus kota, saat berada dilampu merah perempatan Wirobrajan (Nama salah satu tempat diYogyakarta) saya melihat ada sepasang pasangan yang berkekurangan secara fisik berjalan berdampingan. Sang Pria yang berusia kurang lebih 28 tahun dengan keterbatasan fisik yang tidak bisa melihat sama sekali (buta) berjalan berdampingan dengan Sang Wanita yang tubuhnya berukuran pendek (cebol) yang kira2 berusia 47 tahunan berjalan berdampingan seraya saling berbagi perhatian satu sama lain. Sang Pria yang tidak bisa melihat berjalan bergandengan dengan sang wanita yang dengan sabar menuntun jalan sang pria, walau sang wanitapun berjalan agak sulit dikarenakan tinggi tubuhnya yang sangat pendek (cebol) namun cinta dan kasih sayang yang tulus terus dibagi melalui bahasa tubuh mereka. Walau usia mereka terpaut sangat jauh tapi mereka terus berbagi perhatian dengan saling mengusap keringat satu sama lain, berbisik sambil berbagi canda dan hal-hal simple penuh arti pun mereka bagi seraya tidak menghiraukan berjuta tatap mata yang terpesona melihat mereka.

               Air mata saya langsung menetes saat melihat pemandangan seperti itu, bahkan semua penumpang yang ada dalam bus menoleh keluar jendela seakan tak ingin melewatkan pemandangan indah tersebut, sampai-sampai pengendara-pengendara yang lainpun mengarahkan pandangan pada fokus yang sama. Keterbatasan fisik tidak dijadikan alasan bagi mereka untuk tidak hidup tanpa cinta, mereka tulus membagi arti cinta sesungguhnya kepada pasangannya.

              Kita pasti merindukan memperoleh pasangan yang paham akan arti ketulusan cinta seperti mereka, memiliki pasangan yang mau menerima kelebihan bahkan kekurangan kita. Pasangan yang mampu membuat hari-hari kita indah walau hati kita dirundung gelisah, sedih bahkan amarah, pasangan yang selalu ada dalam kondisi apapun dan dengan keadaan bagaimanapun. Kejadian itu benar-benar memberi “Pelajaran Cinta” yang berharga bagi kita. Mungkin kita bisa belajar dari kehidupan mereka, dari ketulusan cinta mereka yang seakan buta akan arti perbedaan dan kekurangan dalam diri mereka. Mengartikan cinta memang sulit, bahkan terkadang sangat tidak logis namun yang paling kongkrit adalah “Cinta tidak butuh obralan kata yang terangkai bagaikan janji, tidak juga rankaian kata-kata yang puitis, Cinta hanya butuh bukti, Dia (cinta) hanya butuh realisasi bukan janji-janji, buktikan dengan sikap dan tindakan bukan dengan omongan”
Semoga tulisan yang tak sempurna ini bisa sedikit mengubah presepsi kita tentang apa itu cinta, bagaiman itu cinta dan seperti apa itu cinta :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar