Sabtu, 28 Juni 2014

“Terima Kasih Kampus Merah”


Empat setengah warsa tak terasa
Aku hirup udara Universitas Janabadra
Aku timba pengalaman berharga
Aku reguk ilmu tak terkira
Berharap dapat menjadi engineer yang berguna

Waktu terus berjalan tak terkira
Mulai dari pertengahan tahun 2009
Ada lara dan air mata
Canda ria, penuh tawa
Semua peluh aku rasa
Dalam usaha meraih cita dan asa

Mana mungkin aku bisa lupa
Transit tempat menanti dosen tiba
Dengan 6 pohon rindang yang tumbuh di muka
Kantin basement dan pojok pelepas dahaga
Ruang BEM Fakultas Teknik wadah kerja anak muda
Jejeran bangku di depan ruang dekanat
Tempat favorit melepas penat
Dengan jemari yang menyentuh laptop dengan erat
Kelas tempat canda ria
Dengan teman-teman sesama
Dalam suka dan cinta

Ah... aku pasti akan merindukan segalanya
Bersama salam dan doa
Mengiringi langkah semangat di dalam dada

Harapku,
Dengan penuh rasa haru
Saat kelak kita menyandang profesi baru
Semoga di kampus merah, kembali kita dapat bertemu :')

Rabu, 08 Januari 2014

Semua Tentang Kita

Tempat ini terasa asing, terasa berbeda
Tak seperti 4 atau 3 atau 2 tahun yang lalu
Saat awal kebersamaan kita
Berbagi tawa, menikmati canda
Pada pertengahan 2009 kita bertemu
Tujuan kita sama, harapan kitapun tak beda
Hanya ingin membahagiakan orang tua
Membuat mereka bangga karena prestasi kita

Tempat ini tampak asing
Saat satu per satu dari kita mulai menikmati dunianya masing-masing
Aku seperti tak lagi mendengar suara kalian
Aku juga mulai jarang melihat wajah-wajah tegar kalian
Kenapa tegar?
Karena kita semua hebat, tetap kuat walau tugas kuliah kita sangat berat

Mungkin aku hanya sedang rindu
Rindu pada kekompakan kita kala itu
Dulu kita pernah mengejar ilmu sampai ke Banjarnegara, semalaman di sepanjang jalan Wates dan bermain air di Kali Progo
Betapa luar biasa semangat kalian
Tetap gigih dan mampu bertahan

Tempat ini akan menjadi lebih asing
6 bulan lagi, 1 tahun lagi, 3 atau bahkan 10 tahun lagi
Saat kita sudah meraih mimpi kita masing-masing
Doaku selalu sama, semoga sukses dan bahagia ada bersama kalian
Jangan lupakan kebersamaan kita
Segalanya terlalu manis untuk dihapus begitu saja
Semoga kelak kita masih bisa dipertemukan kembali
Walau hanya sekedar untuk mengenang cerita yang dulu lagi

Yogyakarta, 14:28 WIB

Sungguh, Engkau hebat!

Ditengah sunyinya malam

Dengan dingin yang semakin menusuk tulang

Aku seperti dibuat sadar

Oleh Dia Sang Penguasa alam

Betapa berharganya aku di mataNya

Betapa luar biasa kasih karuniaNya

Walaupun berlumur dosa

Walaupun penuh dusta

Namun Engkau tetap setia

Engkau masih memberi cinta

Tuhan, betapa luar biasanya Engkau

Hati Mu sungguh mulia

Kasih sayang Mu begitu nyata

Siapakah aku tanpa Engkau Tuhan?

Aku kecil, aku lemah, aku bahkan tak mampu menghabiskan detik demi detik waktuku tanpa penyertaanMu

Pegang tanganku Tuhan

Tuntun jalanku

Sebab aku tak mampu sendiri, tanpa penyertaan Mu



Yogyakarta, 8-1-2013, 22:10 WIB

"Kamu, di siang itu"

Apa kabar Tuan?
Lama tak nampak
Lama tak terlihat.
Tadi aku melihat, sosokmu yang begitu hangat
Tak ada yang berubah, semua masih tetap hangat
Engkau masih mempesona, tak ada yang berbeda
Engkau hanya terlihat sedikit lelah
Entah apa yang membuatmu begitu nampak lesu
Apa aktifitasmu begitu sangat menyita waktu,
Sampai untuk peduli pada dirimu sendiripun kau tak mampu
Ah sudahlah akupun tak punya hak untuk sedikit bertanya tentang kesibukanmu
Siapa aku?
Bukankah itu yang selalu menjadi pertanyaanmu?

Rabu, 04 Desember 2013

Terima Kasih Tuhan


Di saat gundah melanda, saat merasa segalanya terlalu berat untuk di pikul seorang diri, aku bisa apa??
Kepada siapa aku harus berlari??
Untuk melabuhkan beban,
Untuk menyandarkan kepala walau hanya sedetik ,
Untuk berbagi lara walau cuma semenit atau bahkan hanya untuk mencicipi sedikit bahagia, di tengah lelahnya jiwa karena rutinitas dunia.
Karena lelah yang hampir menyentuh titik jenuh dan diikuti seabrik rasa-rasa yang lain, yang terus menyerang tanpa henti, membius semangat, memudarkan tawa, menghapus sukacita.
Entahlah segalanya di renggut....
Namun, aku punya Tuhan..
Aku punya Tuhan yang tak pernah kulihat wajahNya,
Tuhan yang tak pernah ku rasakan secara langsung hangat genggaman tanganNya,
Tuhan yang tak pernah ku dengar bunyi suara sepatuNya bila berjalan,
Tapi, aku bersyukur punya Dia..
Aku merasa beruntung bisa menikmati kemurahan hatiNya.
Hanya Dia pendengar sejati.
Pendengar satu arah yang baik.
Pendengar yang selalu mendengar tanpa berkomentar.
JawabanNya hanya bisa dirasakan dan diyakini dalam iman.
Mungkin hanya karena kebaikanNya aku masih bisa melukis senyum,
Masih mampu menatap indahnya dunia walau dengan lengkungan senyum palsu.
Selengkung senyum yang bisa menyamarkan kesedihan, menutup luka dan menyamarkan air mata.
Tapi...terima kasih Tuhan, terima kasih penghibur sejati buat satu senyuman penuh arti.

Mungkin Ini Arti Ketulusan


Mereka menertawakanku, menganggap aku terlalu bodoh dengan semua yang aku rasakan saat ini. Mereka bahkan menganggap pertimbangan ku terlalu naif dan konyol. Tapi aku rasa mereka salah, karena kamu spesial, kamu istimewa, kamu berbeda dan kamu jauh dari apa yang mereka pandang tentang kamu. Aku masih tetap menjadikan kamu yang pertama dalam urutan orang spesial di hidup ku. Tak peduli lagi bagaimana cerita-cerita negatif mereka tentang kamu. Aku buta akan semua hal buruk itu.
Tapi, apa semua yang aku perjuangkan dalam diam ini akan sia-sia??
Semua akan sia-sia tanpa ada istilah ‘Saling’. Semua akan sia-sia kalau hanya aku yang gigih memperjuangkan semua yang aku anggap itu sebagai ‘Kebahagiaan’. Semua akan sia-sia kalau aku terlalu takut untuk menerima kenyataan saat aku harus bersikap jujur.
Aku terlalu bodoh untuk hal ini.
Dari semua sikapku, tak mungkin kau tak tahu aku punya perasaan lebih padamu. Dari semua ceritaku bahkan sorot mataku, tak mungkin kau tak paham bahwa ada cinta dibalik semua itu. Aku terlalu banyak diam dan memendam, mungkin disitulah kesalahanku. Terlalu egois mengatakan dan terlalu takut mengungkapkan. Aku tak bisa menyalahkan siapa-siapa dan tak bisa mengkambing hitamkan siapapun. Bukankah dalam cinta tak pernah ada yang salah?
Tapi akhirnya aku harus mulai belajar jujur dengan perasaan ku sendiri. Kalau aku sudah lelah. Aku jenuh. Atau mungkin Tuhan telah menunjukan kepadaku hal yang sudah semestinya ku sadari sejak dulu. Kamu dikenal bukan untuk di miliki. Kamu hadir dalam kehidupan ku bukan untuk menepati tempat spesial dalam hati.
Dan harusnya aku menyadari hal itu sejak dulu.
Aku hanya berharap semoga aku bisa seperti itu. Meninggalkan sejuta bayangan tentangmu. Mengubur semua hal indah yang menghiasi setiap malam ku. Mungkin berat. Aku tau itu tak mudah. Butuh waktu untuk menghapus semuanya. Sedikit demi sedikit, perlahan namun pasti. Rasa itu akan hilang. Sayang itu akan pudar bahkan mungkin cinta itu akan lenyap.
Suatu hari nanti aku ingin pergi jauh meninggalkan semua ini. Semua cerita indah yang tak kunjung menemukan waktu agar terungkap. Tapi, apa setelah aku pergi kamu akan tetap mengingatku? Bahkan mencari ku? Setidaknya mengingat aku sebagai orang paling tolol dengan rasa yang tolol dan perjuangan yang tolol. Walau mungkin nanti kita tak bersama lagi aku akan berdoa agar hal baik akan selalu ada didalam hidupmu. Kebahagiaan dengan keluarga kecilmu kelak. Walau tak harus denganku. Walau tanpa aku. Walau pahit untuk ku.

Yogyakarta, 29 November 2013, 21.50 WIB

Sadar dan Sabar

Aku sekarang jadi sadar, jadi paham bahwa yang baik tidak selamanya akan terlihat baik dimata orang lain. Menjadi sadar bahwa tidak selamanya yang kita inginkan pasti akan kita dapatkan. Tuhan lebih tahu apa yang kita butuhkan bukan yang kita inginkan. Disaat kita dihadapkan dengan hal yang seperti itu kita hanya cukup berbesar hati, bersikap ikhlas walau tak mudah. Bukankah Tuhan tau yang terbaik buat kita? Yang indah sudah menanti, mungkin bukan sekarang tapi nanti. Cukup bersabar, walau sulit sekalipun, walau berat tapi harus tetap dijalani. Tetap tegar, kuat juga yaa, senyum harus tetap melengkung indah dibibir; apapun itu keadaannya :)

Yogya, 19-10-13, 11:05 WIB